KEKERASAN DALAM PENGURUSAN TANAH/ SERTIPIKASI/ LEGALISASI ASSET

Kekerasan bukan budaya bangsa Indonesia, Bangsa ini bangsa yang santun, ber-adat dan ber-moral sejak zaman dahulu kala. Namun belakangan ini KEKERASAN menjadi “menjamur” dengan hadirnya berbagai bentuk kekerasan yang ada di media, dan sering kita lihat sehari-hari. Brutal, panas, berontak, seakan-akan menjadi kebiasaan yang lumrah di negeri ini. Kemanakah Pancasila ? Teringat dengan Penataran P4 di zaman 80-an yang saya alami. Wow, kita ini bangsa besar, berbudaya dan bangsa yang santun. Tetapi, kenapa akhir-akhir ini terjadi?

Menariknya tidak hanya dalam masalah politik dan sosial yang menjadi “brutal”, dalam pengurusan legalisasi atau sertipikasi tanah juga sudah mulai terlihat. Ada beberapa hal yang menurut saya perlu di sikapi dan diantisipasi secara bersama-sama, sehingga kita kembali menjadi manusia yang ber-adab, santun dan terhormat. Namun bila dilihat dari pengalaman, sering melibatkan banyak orang adalah trend, disamping ancaman yang datang ke kantor pertanahan. Jenis-jenis kekerasan yang terjadi menurut saya seperti :

  1. Memaksakan kehendak mensertipikatkan tanahnya, dibawah ancaman. Padahal dokumen tidak jelas, tidak lengkap dan yang lebih konyol, dokumen yang dimasukkan palsu.
  2. Memaksakan kehendak dengan dalih sudah menyetor biaya melalui “oknum” pelayan pertanahan, sehingga memaksa pengambil keputusan menandatangani sertipikat.
  3. Memakai jasa “ormas” tertentu dan pejabat tertentu untuk mengawal tanah yang diduga “bermasalah” dan dengan jaminan “ormas” tertentu atau pejabat tertentu, padahal di duga bukan haknya.
  4. Memanfaatkan keterbukaan informasi dan “mengobok-obok” kantor agar dapat intervensi ke dalam kantor.
  5. Memanfaatkan “oknum” orang dalam sendiri yang senior atau berpengaruh untuk mengacau mekanisme legalisasi asset yang sudah semakin berkwalitas. Sehingga dapat dijadikan acuan untuk menekan petugas kantor pertanahan dalam menjalankan tugasnya.

Dari lima modus di atas, jelas menjadikan lembaga BPN tidak berharga, tidak punya wibawa dan sulit untuk maju. Hal-hal di atas di beberapa tempat di atasi dengan berbagai pendekatan sosial, bahkan pendekatan melalui keamanan dengan menghadirkan jasa Polisi untuk menjadi security di kantor pertanahan. Hal ini ditempuh untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diduga seperti yang telah dilakukan di beberapa kantor pertanahan. Namun, biaya untuk kegiatan ini belum terprogram secara nasional.

Jika kekerasan di bidang pertanahan terus terjadi, bisa membawa akibat kacaunya sistem yang akan dibangun untuk membenahi bangsa ini. Tidak jarang terjadi, karena batas tanah atau wilayah  tidak jelas menimbulkan pertumpahan darah. Pertanyaannya sekarang, apa yang harus dilakukan oleh BPN RI? perlukah Polisi Pertanahan? Perlukan mempersenjatai petugas pertanahan? Jawabnya, mungkin saja perlu. Apalagi ditambah dengan adanya program inventarisasi dan penertiban  tanah-tanah yang diindikasikan tanah terlantar yang akan diambil negara untuk keperluan redistribusi. Momen penertiban  tanah terlantar ini sangat mungkin bisa dimanfaatkan para bekas pemegang hak, atau pemegang hak untuk menggerakkan massa untuk melakukan tindak kekerasan terhadap aparat BPN yang akan menertibkan tanah terlantar tersebut. Sehingga menimbulkan rasa was-was bagi pelaksana di daerah. Saya kira sangat mendesak dan perlu pemikiran bersama dan perumusan bersama dalam pertemuan khusus, karena bagaimanapun, mengurus pertanahan saat ini tidak sekedar administrasi tapi adalah tanah untuk keadilan rakyat. Tanah untuk keadilan rakyat sudah menggema dimana-mana sebagai bentuk dari reforma agraria, dengan tujuan Tanah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

I hope this simple ideas would be an inspiration as soon as possible.

Tolitoli,   Juli 2012

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s