SENSUS KEPEMILIKAN TANAH

Ada sensus penduduk, ada sensus pajak, ada sensus pertanian,…dll. Kapan ada sensus kepemilikan tanah. Sensus dengan kata lain adalah pendataan. Pendataaan, ada data base, baik itu manual maupun computerized, yang intinya adalah ada basis data yang tersaji, dan dapat dianalisis atau dilaporkan performanya atau akan dijadikan bahan kebijakan dan seterusnya. Fungsinya amat-amat lah banyak. Sensus kepemilikan tanah bukan hal yang sulit, hanya butuh  di”agenda” kan  atau di”program”kan, apakah itu melalui agenda ekonomi pertanahan, administrasi pertanahan, politik pertanahan, atau hukum pertanahan sekalipun.

Dengan tersajinya secara lengkap kepemilikan tanah, yang dalam jargon BPN disebut data”IP4T” dan dibuat dengan system yang up to date, banyak akan memberikan data yang tidak di duga sama sekali. Beberapa peraturan mungkin harus ditinjau kembali akibat dari lengkapnya basis data tersebut. Misalnya : Kepemilikan maksimum atas tanah pertanian, absentee, batasan pemilikan tanah pekarangan dan sebagainya, akan membuka betapa terjadinya ketimpangan IP4T yang sudah sangat sering di suarakan namun, hanya sayup-sayup terdengar, seakan-akan IP4T adalah hanya program rutin biasa saja.

SENSUS KEPEMILIKAN TANAH, bisa membuka tanah siapa milik siapa, tanah yang mana milik siapa, tanah yang mana bukan milik siapa dan seterusnya. Jika data tanah sudah lengkap dari desa ke desa, dari kabupaten, provinsi dan nasional, dapat lebih mudah melihat permasalahan tanah yang ada. Ada tokoh besar dari China mengatakan, jika masalah pertanahan sudah “beres” dan  “well managed” 60 persen masalah pemerintahan dapat terjawab. Wow….. Dengan lengkapnya data tanah di suatu daerah ada banyak hal yang bisa terjawab antara lain :

  • sangat kecil kemungkinan sengketa baru muncul,
  • peluang besar investor masuk, karena tidak ada spekulasi tanah, dan sudah ada “land banking”
  • sangat gampang mendesain pembangunan;
  • Sangat gampang mendesain tata ruang,
  • Lebih mudah membuat peta dengan tema apapun;
  • Lebih muda mengontrol persediaan tanah;
  • sangat gampang mendesain wilayah perkotaan dan perdesaan;
  • sangat gampang merelokasi;
  • sangat gampang menata pertanian, perkebunan;
  • sangat gampang membangun infrastruktur;
  • sangat mudah mengatur apapun dengan data base pertanahan yang lengkap, up to date dan akurat.
  • dll…

Sebelum teknologi pemetaan semakin mudah dengan adanya pemetaan lewat satelit, Negara Jerman membutuhkan 100 tahun untuk memetakan wilayahnya secara detil melalui foto udara kemudian dibuatkan database yang lengkap akan kepemilikannya. Australia butuh waktu sejak tahun 1800-an sampai sekitar tahun 1990-an untuk bisa computerised system di pertanahannya agar basis datanya up to date dan lengkap. Mungkin dengan teknology terbaru saat ini pemetaan bisa dipersingkat antara 5-20 tahun untuk melengkapi semuanya, suatu lompatan yang dahsyat.

Langkah pemetaan, pendataan atau sensus, diikuti dengan langkah program yang riil harus segera diwujudkan, tidak hanya diwacanakan. Pertanahan jika “terlalu” dikaitkan dengan kepentingan politik, akan semakin runyam, biarlah pertanahan hanyalah semata teknis dan manajemen belaka, agar pertanahan di negeri ini dapat memberi sumbangan besar di negeri ini untuk segala bentuk kepentingan. SEMOGA

Tolitoli, June 2012

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s