SEBELUM 23 Mei 2008

Hiruk pikuk demo, rencana demo, penolakan, rekomendasi mengatasi masalah BBM  terus mengalir sebelum 23 Mei 2008 ( rencana pemerintah menaikkan harga BBM); kemudian BLT dibahas habis-habisan, di kritik habis-habisan ternyata tak menyurutkan nyali pemerintah untuk tetap meneruskan rencananya. Banyak orang berkata, sebenarnya teriakan kita didengar nggak sih ? Saran kita di dengar nggak sih, rekomendasi kita dianggap angin lalu kah ? Ambil contoh ketika ada diskusi di salah satu radio di Jakarta : Diskusi antara penyalur BLT (PT.POS Indonesia) dengan pendengar, saya tergelitik juga mendengarnya. Banyak pendengar mengeluh BLT akan salah sasaran karena data miskinnya memakai data lama (2005), kenapa tidak dipercayakan kepada desa atau kelurahan untuk mendata ulang sesuai dengan kriteria yang diminta;  Methode penyalurannya tidak efisien dan efektif karena cenderung melibatkan banyak orang biaya besar, dan menyita banyak energi. Lalu disarankan agar diberi ‘account’ saja biar tidak terlalu banyak melibatkan orang, energi dan perhatian, selain cepat, gampang dan tidak perlu antrian panjang di Kantor Pos; sekaligus membudayakan menabung.

Lalu dijawab oleh Pihak POS Indonesia, bahwa mereka tidak memakai cara itu, mereka tinggal terima dan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk yang ada, tanpa ada upaya menampung aspirasi dan mengusulkan perubahan sesuai dengan opini masyarakat pendengar. Hal ini sangat menggelitik saya sebagai pendengar.  Sangat kaku sekali, tidak menerima perbedaan pendapat, terkesan mengabaikan. Sulit berubah memang tipikal birokrasi dengan model organisasi “Benteng”.  Perlu mendesain dengan waktu  yang lama sekali untuk melakukan perubahan. Tidak ada yang rela mengubah Istana Presiden atau Tembok China yang sudah dibangun sebagai lambang kekuatan, kekokohan suatu jaman. Paling hanya merawat dan emoles saja atau memperindahnya.

Melakukan perubahan besar dan cepat, siapapun yang melaksanakannya, sehebat dan sekaliber apapun orangnya, melakukan perubahan tidaklah mudah. Semua butuh waktu. Perubahan berpikir era Budi Utomo 100 tahun lalu sebagai titik tolak Kebangkitan Bangsa butuh 3 abad untuk merombaknya. Tiga abad seakan tidur panjang.  100 tahun kita sudah bangkit, perjuangan kita masih berputar di sekeliling kita, menata diri, konsolidasi tiada henti, sementara dari luar tiada henti mempengaruhi, jati diri bangsa dipertanyakan banyak orang. Pertanyaannya mau kah kita menjadi diri kita sendiri ? Bangsa Indonesia sejati, bermartabat dan punya harga diri ? Save our nation! Hai pemuda bangsa majulah dengan idealisme yang jujur, bersih dan berani. Bangkitlah bangsaku, kikis habis perusak bangsa. Mari bersatu membangun negeri.

Hari ini (19 Mei 2008) aku merenung untuk 20 Mei 2008
100 tahun Kebangkitan bangsa.

Dari Kebayoran Baru,
Makmur Siboro

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s